The Christmas Reflection Poem (for Lia)

Lia & I in our days of "nakal"

Several days ago, my best friend, the half of my soul, Lia Sibarani, asked me to write her a reflection that could be a poem or prose. I was surprised yet feel so honored. I mean she’s a talented writer too, doesn’t need a genius to tell you that! She’s been working for more than 8 year in Media, as old as me working in PR industry. She said she’s been asked to read a reflection about Christmas on her Church, so she need the poem. I was so happy… to be entrusted such a lovely task!

So I made her the poem, it’s basically how I feel about Christmas, and from my personal observation of how people around me responded to “Christmas”. Me, myself is so excited about Christmas, and you all can read it very well on my previous posts, but somehow I also realized some people feel like “Hey, it’s only Christmas. Just another Celebrations which will come eventually every year”… and they sit there on the church seat and listen to the sermon with an empty eyes, glancing to their watch like secretly wishing these all will soon end.  The Christmas Card, that takes quite an effort to greet other people, are now no longer an option, since we have Blackberry, Social Web, and other technology devices that allow us to “blast” the greeting. All are words that we received from some people then we forward it to other people instead we make a special greeting plus mentioned that person’s name. And Christmas Tree is just another form of Decorations, not a symbol of a quality family-time to decorate it together whilst talking about the family Christmas plan. I don’t want to have a cold heart like that. I want to keep my Christmas as one warm celebration that move me deeply and the moment when I should remember yet again and again of how full of blessing my life is.

This poem I made based on that feeling. And again I was asking my beloved – talented friend Patrix The Copywriter at office to help me out perfecting the poem, and make it more beautiful, and he did a great job!

I send it to Lia this morning, and I wish she know how proud I was when she gave me the compliment of how much she like the poem. O well, if it’s not someone that you care a lot, you wouldn’t care for any comment either. I – from all the people in the  world – probably the one who’s the most looking forward to listen to her reading it on the stage, too bad we have a different celebrations…

The poem is in Bahasa Indonesia, I don’t think I can make it as beautiful as it is if I translate it to English… but… well, I could try later 😀 let me know your opinion about it — and I hope you’ll have one awesome Christmas celebration…

INVITATION: if anyone want to send me your poem or prose about Christmas, feel free to send it to me, I”ll  post it here!

***************************************

RENUNGAN NATAL SEDERHANA

oleh Lolo & Patrix

Anak kecil itu mengetuk pintu Gereja pelan
Tangan kecilnya menghasilkan ketukan yang sayup
Pintu terbuka…….
Hatinya membesar memenuhi dadanya
Keingin-tahuannya memalingkan kepalanya untuk mencuri pandang
dan dia bertanya penuh harap “Ada Tuhan di dalam?”
Keriaan yang tulus terlihat di sorot matanya
Ada kerinduan yang mendalam terdengar di kata-katanya
“Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun”
“Aku bawakan kado yang spesial untukNya”
“Kartu yang aku tulis dan gambar pohon terang”
“dan akan kulihat Tuhan tersenyum senang”
(jeda)
Ingatkah kah kita, ketika kita masih seperti anak itu?

Bukan kah kau dan aku sama?
Kecil, muda, dewasa, lalu menjadi tua?
Bertanya apakah makna Natal sekarang?
Kalau…
Bukan bel Gereja yang berkumandang
Bukan Dekorasi natal dan pohon terang
Bukan kado kado yang terpampang
Bukan liburan panjang
Bukan pula sale yang berlomba-lomba menawarkan barang
Waktu berlalu begitu saja
Natal datang dan pergi, tanpa meninggalkan kesan
Kosong…………
Hanya sebuah hari biasa, layaknya 364 hari lainnya

Bukan kah kau dan aku sama?
Bukan kah kisah kita tertulis dalam buku yang sama?
Bukan kah Allah mengingat setiap puji syukur dan keluh kesah kita
Bukan kah Ia tertawa bersama ketika kita bersuka ria
Bukan kah Ia juga di sana ketika kita dirudung duka
….
Lagi dekorasi
Lagi lagu-lagu
Lagi kado
Lagi kebaktian Natal

Ini Natal…
Saat tingkap surga terbuka dan malaikat melantunkan puji-puja
Saat kita buka hati lebar lebar
Untuk sebuah perayaan yang bukan ala kadarnya
Untuk sebuah pesta kudus yang bukan sekedar rutinitas
Untuk sebuah kekhusyukan yang tidak hanya seperlunya

Dan nyanyian Malam Kudus bukan sekedar gita wajib
Namun hymne hati agar malam ini benar kudus bagiMu
Sebuah pengantar yang membawa hati kami mendekat padaMu

Dan Pohon Terang bukan sekedar simbol
Yang memendarkan kerlip semu, berdiri kaku di sudut ruang keluarga
Namun pancaran sinar asa yang ingin menghias keilahianMu
Sebuah lentera yang menerangi jalan kami menuju hadiratMu

Dan renungan Natal bisa sungguh diserapi maknanya
Tentang cintaMu yang dalam ya Bapa
Biarpun ragaku hanya terduduk di ruang yang fana
Tapi jiwaku bersorak dengan suka cita yang membahana

Doa ku sangat sederhana
Sesederhana kedatanganMu di dunia
Biarlah semangat Natal membasuh hati kami
Menghanyutkan keegoisan diri
Membawakan kebahagiaan sejati


Anak kecil itu mengetuk pintu Gereja pelan

Tangan kecilnya menghasilkan ketukan yang sayup

Pintu terbuka…….

Hatinya membesar memenuhi dadanya

Keingin-tahuannya memalingkan kepalanya untuk mencuri pandang

dan dia bertanya penuh harap “Ada Tuhan di dalam?”

Keriaan yang tulus terlihat di sorot matanya

Ada kerinduan yang mendalam terdengar di kata-katanya

“Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun”

“Aku bawakan kado yang spesial untukNya”

“Kartu yang aku tulis dan gambar pohon terang”

“dan akan kulihat Tuhan tersenyum senang”

(jeda)

Ingatkah kah kita, ketika kita masih seperti anak itu?

Bukan kah kau dan aku sama?

Kecil, muda, dewasa, lalu menjadi tua?

Bertanya apakah makna Natal sekarang?

Kalau…

Bukan bel Gereja yang berkumandang

Bukan Dekorasi natal dan pohon terang

Bukan kado kado yang terpampang

Bukan liburan panjang

Bukan pula sale yang berlomba-lomba menawarkan barang

Waktu berlalu begitu saja

Natal datang dan pergi, tanpa meninggalkan kesan

Kosong…………

Hanya sebuah hari biasa, layaknya 364 hari lainnya

Bukan kah kau dan aku sama?

Bukan kah kisah kita tertulis dalam buku ya sama?

Bukan kah Allah mengingat setiap puji syukur dan keluh kesah kita

Bukan kah Ia tertawa bersama ketika kita bersuka ria

Bukan kah Ia juga di sana ketika kita dirudung duka

….

Lagi dekorasi

Lagi lagu-lagu

Lagi kado

Lagi kebaktian Natal

Ini Natal…

Saat tingkap surga terbuka dan malaikat melantunkan puji-puja

Saat kita buka hati lebar lebar

Untuk sebuah perayaan yang bukan ala kadarnya

Untuk sebuah pesta kudus yang bukan sekedar rutinitas

Untuk sebuah kekhusyukan yang tidak hanya seperlunya

Dan nyanyian Malam Kudus bukan sekedar gita wajib

Namun hymne hati agar malam ini benar kudus bagiMu

Sebuah pengantar yang membawa hati kami mendekat padaMu

Dan Pohon Terang bukan sekedar simbol

Yang memendarkan kerlip semu, berdiri kaku di sudut ruang keluarga

Namun pancaran sinar asa yang ingin menghias keilahianMu

Sebuah lentera yang menerangi jalan kami menuju hadiratMu

Dan renungan Natal bisa sungguh diserapi maknanya

Tentang cintaMu yang dalam ya Bapa

Biarpun ragaku hanya terduduk di ruang yang fana

Tapi jiwaku bersorak dengan suka cita yang membahana

Doa ku sangat sederhana

Sesederhana kedatanganMu di dunia

Biarlah semangat Natal membasuh hati kami

Menghanyutkan keegoisan diri

Membawakan kebahagiaan sejati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s